Kamis, 06 Februari 2014

UJIAN AKHIR SEMESTER MAKALAH PEMANFAATAN E-LEARNING DI LINGKUP PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan yang dibimbing oleh Bapak Danang Tandyonomanu Disusun Oleh: Nama : Anggelina Morantri Bili NIM : 137905013 UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI S2 TEKNOLOGI PENDIDIKAN Desember 2013 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunianya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pemanfaatan E-Learning di Lingkup Perguruan Tinggi di Indonesia” tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan”. Makalah ini merupakan inovasi pembelajaran untuk memahami mata kuliah tersebut secara mendalam, semoga makalah ini dapat berguna untuk mahasiswa pada umumnya. Dalam penulisan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak/ibu dosen serta teman-teman mahasiswa yang telah memberikan bimbingan serta partisipasinya atas terselesaikannya Makalah ini. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan makalah ini, dan kami mengarapkan saran serta kritik yang bersifat membangun dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Terimakasih. Surabaya, Januari 2014 Penulis DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL .................................................................................................... i KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 1.1 LATAR BELAKANG ........................................................................................... 1 1.2 RUMUSAN MASALAH..................................................................................... 3 1.3 TUJUAN ............................................................................................................... 3 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 4 2.1 PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN E-LEARNING............ 4 2.2 FUNGSI DAN TUJUAN E-LEARNING............................................................. 5 2.3 KARAKTERISTIK DAN MANFAAT ELEARNING ......................................... 6 2.4 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-LEARNING ........................................ 8 2.5 METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING...................................................... 9 2.6 BEBERAPA MANFAAT E-LEARNING YANG DIGUNAKAN DI LINGKUP PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA..................................................................... 10 BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 30 3.1 KESIMPULAN ...................................................................................................... 30 3.2 SARAN .................................................................................................................. 30 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 31 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi banyak membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan dewasa ini. Pendidikan formal. Informal, dan non formal dapat menikmati fasilitas teknologi informasi dari yang sederhana sampai kepada yang canggih. Teknologi komputer dan internet, mulai dari perangkat lunak maupun perangkat keras memberikan banyak tawaran dan pilihan bagi dunia pendidikan untuk menunjang proses pembelajaran para peserta didik. Keunggulan yang ditawarkan bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi, namun juga fasilitas multi media yang dapat membuat belajar lebih menarik melalui visual interaktif. Sejalan dengan perkembangan teknologi internet, banyak kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi ini. Cyber atau electronic learning (E-Learning) pada hakekatnya belajar, atau pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi komputer atau internet. Teknologi belajar seperti itu bisa juga disebut sebagai belajar atau pembelajaran berbasis Web (web based instruction). Era globalisasi atau era informasi merupakan suatu keadaan dimana terjadi proses perubahan antar negara, antar bangsa, antar budaya, tanpa mengenal batas dan waktu. Memasuki abad ke -21 pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik agar dapat hidup dalam situasi baru yang muncul dalam diri dan lingkungannya. Dengan kondisi seperti itu diperlukan kemampuan belajar bagaimana belajar (learning how to learn), kemampuan tersebut dapat dicapai dengan empat pilar pendidikan yang diajukan UNESCO dan digambarkan sebagai dasar-dasar dari pendidikan. Pilar tersebut yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning ti live together. Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan tersebut, dikembangkan kompetensi-kompetensi yang berguna bagi kehidupan peserta didik dimasa depan, yaitu kompetensi keagamaan, ekonomi, sosial, pengembangan diri. Format-format pendidikan yang mungkin tersedia di abad ke-21 yaitu Cyber (E-Learning) yang merupakan belajar atau pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi komputer dan atau internet, open/distance learning yaitu model belajar jarak jauh, dimana guru/pelatih dan peserta didik tidak berada dalam satu tempat dan waktu yang sama, serta tidak bertatap muka secara fisik langsung. Pemanfaatan internet dalam bidang pendidikan digunakan sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran tidak lagi terpusat pada suatu pusat lembaga pendidikan seperti kampus, sekolah, kursus, dan pusat-pusat pelatihan lainnya, namun telah mengubah proses belajar mengajar tanpa datang ke tempat pertemuan di mana proses pembelajaran dilaksanakan. Kegiatan proses belajar mengajar terus secara menyebar diarahkan kearah yang lebih fleksibel terhadap waktu dan tempat. Waktu dan tempat bukan lagi merupakan kendala dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang demikian dikenal dengan sebutan e-learning/electronic-learning. Kecenderungan untuk mengembangkan e-learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran diberbagai perguruan tinggi meningkat sejalan dengan meningkatnya infrastruktur internet yang menunjang penyelenggaraan e-learning. Melalui e-learning proses belajar mengajar dapat dilakukan tanpa adanya tatap muka antara pengajar dan peserta didik dan tidak lagi dibatasi oleh waktu dan tempat. E-learning menjadi salah satu solusi bagi permasalahan dunia pendidikan yang semakin sibuk dengan berbagai layanan yang menawarkan fleksibilitas dan mobilitas yang tinggi. Pada umumnya, perguruan tinggi masih sangat didominasi oleh pembelajaran yang disebut berpusat pada guru. Meskipun demikian, dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, telah terjadi upaya penting oleh sebagian besar universitas untuk meningkatkan pendekatan mereka belajar melalui pemanfaatan teknologi tersebut. Seperti banyak lembaga pendidikan tinggi lainnya di seluruh dunia, perguruan tinggi di Indonesia juga telah memulai penerapan pembelajaran difasilitasi ICT, untuk berbagai tingkat intensitas. Berdasarkan beberapa hal tersebut maka disusunlah makalah dengan judul “Pemanfaatan E-Learning di Lingkup Perguruan Tinggi di Indonesia” untuk mengetahui beberapa manfaat e-learning di lingkup Perguruan Tinggi dalam hal ini implementasinya di beberapa Perguruan Tinggi. Salah satu perguruan tinggi yang telah memanfaatkan e-learning adalah Universitas Terbuka (UT). UT sebagai pendidikan tinggi jarak jauh telah memanfaatkan e-learning sebagai salah satu alat untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada mahasiswanya. 1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa dan bagaimana pengertian serta sejarah perkembangan E-learning? 2. Apa fungsi dan tujuan E-learning? 3. Apa karakteristik dan manfaat E-learning? 4. Apa kelebihan dan kekurangan E-learning? 5. Apa dan bagaimana metode penyampaian E-learning? 6. Jelaskan beberapa manfaat E-learning yang digunakan di lingkup Perguruan Tinggi di Indonesia? 1.3 TUJUAN Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu 1. Memahami pengertian E-learning serta sejarah perkembangannya, 2. Memahami fungsi dan tujuan E-learning, 3. Memaham karakteristik dan manfaat E-learning, 4. Memahami kelebihan dan kekurangan E-learning, 5. Memahami metode penyampaian E-learning, 6. Memahami beberapa manfaat E-learning yang digunakan di lingkup Perguruan Tinggi di Indonesia BAB II PEMBAHASAN 2.1 PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN E-LEARNING 2.1.1 Pengertin E-Learning Beberapa ahli mencoba menguraikan pengertian e-learning menurut versinya masing-masing, diantaranya: 1. Menurut Allan J. Henderson, e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003). 2. Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas. 3. William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari Internet). E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). 2.1.2 Sejarah dan Perkembangan E-learning Pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh Universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut: 1. Tahun 1990: Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi. 2. Tahun 1994: Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal. 3. Tahun 1997: LMS (Learning Management System). Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE. 4. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. 2.2 FUNGSI DAN TUJUAN E-LEARNING 2.2.1 Fungsi E-learning Ada tiga fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di kelas (classroom instruction), yaitu sebagai tambahan (suplemen) yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi). a. Suplemen Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. b. Komplemen Dikatakan berfungsi sebagai komplemen apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi penguatan (reinforcement) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. c. Pengganti (substitusi) Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswa-nya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu: • sepenuhnya secara tatap muka atau konvensional, • sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan • sepenuhnya melalui internet. 2.2.2 Tujuan E-Learning Penggunaan metode belajar e-learning di Indonesia mulai digunakan di beberapa di sekolah ataupun universitas yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Tujuan pembelajaran E-Learning adalah: 1. Siswa atau mahasiswa dapat belajar mandiri tanpa harus bertatap muka langsung denga guru atau dosen yang bersangkutan. 2. Siswa atau mahasiswa mendapatkan materi pembelajaran mereka tanpa harus membeli buku aslinya. 3. Materi pembelajaran mereka ada di dalam E-Book dan E-Book ada di dalam sebuah CD atau DVD. 2.3 KARAKTERISTIK DAN MANFAAT E-LEARNING 2.3.1 Karakteristik E-Learning 1. Memanfaatkan jasa teknologi informasi dan komunikasi berupa internet sehingga penyampaian pesan dan komunikasi guru dan siswa secara mudah dan cepat. 2. Memanfaatkan media komputer seperti jaringan komputer (computer networks atau digital media). 3. Menggunakan pendekatan pembelajaran mandiri. Dengan menggunakan e-learning, pembelajar dituntut untuk melepaskan ketergantungannya terhadap pembelajar karena pembelajaran tidak dilakukan secara langsung. 4. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer. 5. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi. 6. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di computer. 2.3.2 Manfaat E-learning Manfaat e-learning diantaranya adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar. b. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran darimana dan kapan saja (time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. c. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach aglobal audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan sehingga, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar juga dilakukan melalui internet. d. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. e. Lebih mudah mendapatkan materi atau info. Jika kita menggunakan sistem pembelajaran berbasis e-learning, kita akan lebih mudah untuk mencari dan mendapatkan materi. f. Bisa mendapatkan materi yang lebih banyak. g. Pembelajaran lebih efektif dan efisien waktu dan tenaga. Jika ada tugas, kita bisa mencari bahan yang kita butuhkan dengan cepat. 2.4 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-LEARNING 2.4.1 Kelebihan E-Learning 1. Pembelajar dapat belajar kapan dan dimana saja mereka punya akses internet. 2. Efisiensi waktu dan biaya perjalanan. 3. Pembelajar dapat memilih materi pembelajaran sesuai dengan level pengetahuannya. 4. Fleksibilitas untuk bergabung dalam forum diskusi setiap saat, atau menjumpai teman sekelas dan pengajar secara remote melalui ruang chatting. 5. Mampu memfasilitasi dan menerapkan gaya belajar yang berbeda melalui beragam aktivitas. 6. Pengembangan keterampilan TIK yang mampu mendukung aktivitas lain pembelajar. 7. Keberhasilan menyelesaikan pembelajaran/perkuliahan online mampu membangun kemampuan belajar mandiri dan kepercayaan diri pembelajar serta mendorong pembelajar untuk lebih bertanggung jawab dalam studinya. 8. Mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis. 9. Mempermudah interaksi antara peserta didik dengan materi, peserta didik dengan guru maupun sesama peserta didik. 10. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. 11. Kehadiran guru tidak mutlak diperlukan. 12. Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. 13. Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif. 2.4.2 Kekurangan E-Learning 1. Pembelajar yang tidak termotivasi dan perilaku belajar yang buruk akan terbelakang/tertinggal dalam pembelajaran. 2. Pembelajar dapat merasakan terisolasi dan bermasalah dalam interaksi sosial. 3. Pengajar tidak mungkin selalu dapat menyediakan waktu pada saat dibutuhkan. 4. Koneksi internet yang lambat dan tidak handal dapat menimbulkan rasa frustasi. 5. Beberapa subjek/mata kuliah bisa saja sulit direalisasikan dalam bentuk e-learning. 6. Pembelajar harus menyediakan waktu untuk mempelajari software/aplikasi e-learning sehingga dapat mengganggu beban belajarnya. 7. Pembelajar yang tidak familiar dengan struktur dan rutin software akan tertinggal. 8. Untuk sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-learning. 9. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. 10. Keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan e-learning. 11. Bagi siswa yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan. 12. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT. 13. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri sehingga memperlambat terbentuknya nilai dalam proses belajar dan mengajar. 14. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan internet. 15. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet. 16. Proses belajar mengajar cenderung kearah pelatihan daripada pendidikan. 2.5 METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING Metode penyampaian bahan ajar di e-learning yaitu: 1. Synchrounous e-Learning: Guru dan siswa dalam kelas dan waktu yang sama meskipun secara tempat berbeda. Nah peran teleconference ada di sini. Misalnya saya mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya mengikuti kuliah lewat teleconference dengan professor yang ada di Stanford University. 2. Asynchronous e-Learning: Guru dan siswa dalam kelas yang sama (kelas virtual), meskipun dalam waktu dan tempat yang berbeda. Disinilah diperlukan peranan sistem (aplikasi) e-Learning berupa LMS dan content baik berbasis text atau multimedia. Sistem dan content tersedia dan online dalam 24 jam nonstop di Internet. Guru dan siswa bisa melakukan proses belajar mengajar dimanapun dan kapanpun. Tahapan implementasi e-Learning yang umum, Asynchronous e-Learning dimatangkan terlebih dahulu dan kemudian dikembangkan ke Synchronous e-Learning ketika kebutuhan itu datang. 2.6 BEBERAPA MANFAAT E-LEARNING YANG DIGUNAKAN DI LINGKUP PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA 2.6.1 Mengembangkan Perkuliahan dengan E-learning berbasis Moodle E-learning kini banyak dikembangkan dengan menggunakan LMS (Learning Management System). Saat ini salah satu LMS open source yang sangat populer adalah Moodle. Moodle dapat dengan mudah dipakai untuk mengembangkan portal sistem e-Learning. Moodle menyediakan fitur portal e-Learning yang memungkinkan pemakai dapat memodifikasi halaman elearning sesuai kebutuhan. Contoh portal e-Learning yang dikembangkan dengan LMS Moodle adalah http://elearning.ub.ac.id/course/category.php?id=25. Pada saat ini akan dijelaskan bagaimana membuat kelas online, yakni menyangkut pembuatan matakuliah, mengatur pengguna, dan mengunggah konten pembelajaran. Panduan ini sebaiknya diikuti dengan praktek langsung di depan komputer. Pada e-learning UB yang berbasis Moodle, manajemen perkuliahan dapat diatur oleh pengguna (user) dengan peran (role) sebagai teacher, atau admin yang dapat melakukan apapun. Walaupun user dengan role course creator dapat memciptakan suatu perkuliaan (course), namun dia tidak dapat memodifikasi perkuliahan yang telah ia ciptakan bila ia tidak mengajar di course tersebut (bukan sebagai teacher). Pendaftaran Sebagai Pengguna Setiap orang yang akan menggunakan sistem e-learning UB perlu mendaftarkan diri sebagai pengguna dengan cara login ke moodle.ub.ac.id. menggunakan alamat emil UB dan passwordnya. Untuk mendaftarkan diri sebagai pengguna baru, dari halaman depan http://moodle.ub.ac.id klik link “Login” di sebelah kanan atas seperti pada gambar 1, lalu masukan alamat emil dan passwordnya. Gambar Login username dan password. Format Perkuliahan Perkuliahan pada Moodle versi 2 memiliki beberapa format, yaitu: SCORM, Social, Topics dan Weekly Format SCORM: Dengan menggunakan format ini, dosen dapat menggunakan satu paket SCORM untuk melakukan seluruh proses belajar mengajar pada course tersebut. Dosen tidak dapat menggunkan aktivitas dan resourse lain yang disediakan oleh Moodle. Format Social: Format ini berorientasi pada sebuah forum, Social forum. Format berguna bila proses belajar mengajar yang dilakukan hanya memerlukan diskusi atau interaksi antar komponennya (student-teacher, student-student). Bahkan format ini dapat digunakan selain untuk course, misalnya sebagai papan pengumuman departemen. Format Topics: Pada format ini, materi pada course terbagi-bagi berdasarkan topik-topik. Setiap topik dapat menggunakan aktifitas dan resource yang disediakan oleh Moodle. Format ini cocok dengan course yang didesain dengan concept-oriented. Format Weekly: Mirip dengan format topik, tetapi pembagian materi pada perkuliahan didasarkan melalui penjadwalan yang tetap (week). Setiap minggu memiliki tanggal mulainya proses belajar mengajar dan tanggal berakhirnya proses belajar mengajar. Sumber belajar (resource) Moodle menyediakan berbagai sumber belajar (resource) dan aktifitas (activity). Resource yang disediakan antara lain seperti yang ditunjukan pada Gambar 3a, sedangkan aktifitas seperti Gambar 3b. Gambar Sumber belajar dan aktivitas yang tersedia pada Moodle File dan Folder: Moodle menyediakan cara mudah bagi seorang guru untuk menyajikan materi kepada mahasiswa. Bahan-bahan ini dapat berupa file seperti word dan presentasi. Bahan dapat ditampilkan pada halaman item baik sebagai individu atau dibundel dalam satu folder. Seorang guru mungkin ingin berbagi dokumen penelitian dalam format pdf atau mungkin memiliki folder contoh-contoh soal ujian masa lalu yang bisa diunduh mahasiswa. Sebagian besar jenis file dapat di-unggah dan diakses melalui Moodle tetapi mahasiswa perlu memiliki software yang sesuai untuk membukanya. Untuk menambahkan file atau folder dapat dilakukan dengan pengeditan dalam halaman kuliah mereka dan kemudian pilih salah satu file atau folder melalui menu yang tersedia seperti pada Gambar Gambar Menu file dan folder IMS Content Packages: IMS content packages dapat dibuat dengan beragam software content-authoring, hasilnya berupa file zip. Moodle secara otomatis akan mengekstrak paket tersebut agar konten paket tersebut dapat dilihat. Konten paket IMS biasanya berisi seperti slide presentasi yang terdiri beberapa halaman yang memiliki navigasi per halaman. Labels: Berbeda dengan resourse lain, dengan label hanya berupa text dan grafis. Label berguna sebagai instruksi pendek yang menginformasikan kepada mahasiswa apa yang harus dilakukan kemudian. URL (Web page): Sebuah URL (Uniform Resource Locator atau Universal) adalah jejaring di internet untuk website atau file online. Dosen dapat menggunakan modul URL untuk memberikan mahasiswa mereka dengan weblinks untuk penelitian sehingga menghemat waktu dan usaha, terutama mahasiswa tidak perlu secara manual mengetik alamat. Page: Page mengacu pada halaman sumber yang membuat link ke sebuah layar yang menampilkan konten yang dibuat oleh Dosen dan memungkinkan halaman untuk menampilkan berbagai jenis konten pembelajaran. Aktivitas (Activity) Assignments: Dengan aktifitas ini, dosen dapat memberikan tugas yang mengharuskan mahasiswa mengirim (upload) konten digital, misalnya essay, tugas proyek, laporan, dan lain-lain. Jenis file yang dapat dikirim misalnya word documents, spreadsheets, images, audio and video clips. Chats: Dengan aktivitas ini, setiap peserta dapat berdiskusi secara real-time via web. Choices: Aktifitas ini sangat sederhana, dosen memberikan beberapa pertanyaan dan menyediakan berberapa pilihan jawaban. Database Activity: Dengan aktifitas ini, dosen dan/atau students dapat membuat, melihat dan mencari bank data mengenai topik apapun. Format dan struktur data yang dimasukkan hamper tidak terbatas, termasuk gambar, file, URL, nomor, dan text. Forums: Sama dengan chat, pada forum, student dan dosen dapat berinteraksi satu sama lain secara real-time secara asinkron. Setiap member yang tergabung dalam forum akan menerima salinan dari posting di email mereka. Glossary: Pada aktivitas ini, pererta dapat membuat kumpulan/daftar pengertian – pengertian kata, seperti kamus. Data yang dimasukkan dapat berasal dari berbagai format dan secara otomatis dapat dibuat link ke materi lain. Lesson: Lesson ditujukan agar dosen dapat membuat aktifitas yang berisi konten yang menarik dan fleksibel. Lesson terbagi menjadi beberapa halaman dan diakhir setiap halaman biasanya terdapat pertanyaan yang memiliki beberapa jawaban. Jawaban yang dipilih student akan menentukan halaman mana yang akan diaksesnya. Media Player: Moodle menyediakan berbagai macam cara bagi dosen dan mahasiswa untuk menambahkan media. Seorang dosen, misalnya, mungkin memasukan video, audio, gambar, atau file suara dalam pembelajaran atau kuis yang kemudian bisa membentuk dasar dari sejumlah pertanyaan. Hal ini juga mungkin (dengan pembatasan tertentu) untuk menanamkan kode dari situs seperti Google Maps. Quiz: Pada modul ini, dosen dapat mendesain kumpulan soal, yang berisi multiple choice, true false, dan pertanyaan jawaban singkat. SCORM/AICC Packages: Dengan module ini, dosen dapat membuat paket yang berisi halaman web, grafis, program Javascript, slide presentasi Flash, video, suara and konten apapun yang dapat dibuka di web browser. Paket ini juga diintegrasikan kumpulan soal yang bila diperlukan dapat dinilai dan kemudian dimasukkan ke rapor student. Surveys: Survey merupakan feedback, quisioner ataupun angket yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran ataupun kritikan bagi dosen ataupun course. Sehingga kinerja dosen dan isi dari course dapat diperbaiki diwaktu mendatang. Wiki: Pada aktivitas ini, student dan dosen dapat secara kolaboratif menulis dokumen web tanpa mengetahui bahasa html, langsung dari web browser. Hasilnya dapat berupa hasil kreativitas kelas, kelompok ataupun individu. Workshop: Workshop atau Lokakarya adalah fitur baru dalam Moodle 2. Fungsinya mirip dengan modul tugas yang diperluas fungsinya dalam banyak cara. Seperti di Penugasan, peserta kursus menyerahkan pekerjaan mereka selama kegiatan Lokakarya. Memanajemen perkuliahan Yang dimaksud dengan perkuliahan (course) di Moodle adalah area di mana seorang guru akan menambah sumber belajar dan aktivitas untuk mahasiswa mereka secara lengkap. Perkuliahan bisa berbentuk halaman sederhana dengan dokumen yang bisa diunduh atau mungkin satu set tugas dimana pembelajaran berlangsung melalui interaksi dosen-mahasiswa. Dosen tentu saja memiliki kontrol atas tata letak dan dapat mengubahnya. Sedangkan mahasiswa dapat mendaftar secara manual atau secara otomatis oleh administrator (melalui SIAM) , atau mereka bisa diizinkan untuk mendaftar sendiri. Mahasiswa juga bisa ditambahkan ke grup jika mereka harus dipisahkan dari beberapa matakuliah dalam satu kelas atau jika tugas perlu dibedakan. Beberapa fasilitas pengaturan perkuliahan anatara lain: • Courses – bagaimana mengatur perkuliahan • Editing text – bagaimana menggunakan editor teks dan ikon • Activities - bagaimana melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran • Resources - bagaimana menambahkan bahan statis untuk perkuliahan • Blocks - bagaimana menambahkan item dan informasi untuk sisi halaman perkuliahan. • Questions – bagaimana membuat pertanyaan dalam kuiz dan modul pembelajaran • Course enrolment – Bagaimana mahasiswa bisa memiliki akses perkuliahan yang dibuat. • Grouping users – bagaimana mengatur mahasiswa dalam kelompok • Tracking progress – bagaimna mengatur dan melihat perkembangan belajar mahasiswa. • Reusing activities – bagaimana menyalin dan memanfaatkan ulang bagaian-bagaian perkuliahan yang telah dibuat sebelumnya. Halaman utama pengelolaan perkuliahan dapat dilihat seperti pada Gambar berikut: Gambar Halaman utama perkuliahan. 2.6.2 Jaringan Perpustakaan Digital di Indonesia Perpustakaan digital adalah: Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital woks so that they are readily and economically available for use by a defined community or set of communities (Digital Library Federation dalam Waters, July/ugust 1998). Artinya perpustakaan digital adalah organisasi-organisasi yang menyediakan sumber daya, termasuk staf dengan keahlian khusus, untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan, dan menjamin keberadaan koleksi karya-karya digital sepanjang waktu sehingga koleksi tersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu atau masyarakat terpilih, secara ekonomis dan mudah. Berdasarkan International Conference of Digital Library 2004, konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi. Di Indonesia, perpustakaan digital telah banyak dikembangkan terutama oleh perpustakaan perguruan tinggi. Bahkan telah terbentuk beberapa jaringan perpustakaan digital seperti Ganesha Digital Library, Indonesia Digital Library Network, Spektra Virtual Library, dan yang paling baru adalah Garuda (Garba Rujukan Digital). Dari beberapa perpustakaan digital yang dibangun oleh perguruan tinggi di Indonesia, tidak ada satupun yang murni sebagai perpustakaan digital yang hanya mengembangkan, menyediakan dan mengorganisasi koleksi dan layanan secara digital, tetapi memadukannya dengan bentuk perpustakaan yang lama, yaitu perpustakaan tradisional, dimana kebanyakan koleksi perpustakaan tersedia dalam bentuk tercetak. Beberapa jaringan perpustakaan digital yang pernah dan sedang dibangun di Indonesia adalah: A. Indonesia Digital Library Network (IDLN) Sejarah Jaringan perpustakaan digital pertama di Indonesia mulai beroperasi pada bulan Juni 2001. Jaringan Perpustakaan Digital tersebut itu bernama IndonesiaDLN (Digital Library Network). IndonesiaDLN diprakarsai oleh Knowledge Management Research Group (KMRG) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merintis pembuatan jaringan perpustakaan digital (digital library network) antar lembaga pendidikan tinggi. Jaringan pustaka digital bertujuan mempermudah kalangan akademik dan masyarakat umum untuk mengakses hasil penelitian, tugas akhir mahasiswa, tesis maupun disertasi. Dana awal pengembangan jaringan berasal dari Singapura sebanyak 60.000 dolar Kanada dan dari Yayasan Litbang Telekomunikasi dan Teknologi Informasi (YLTI) sebanyak Rp 150 juta. Pada awal berdirinya, lembaga yang bergabung dalam jaringan pustaka digital IndonesiaDLN antara lain Proyek Pengembangan Universitas Indonesia Timur, LIPI Jakarta, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Lembaga Penelitian ITB, Pasca Sarjana ITB, serta Computer Network Research Group (CNRG). Beberapa server individu juga ikut menyebarkan informasinya melalui GDL, seperti Onno W. Purbo, Budi Rahardjo, dan Ismail Fahmi. Jaringan pustaka digital ini merupakan satu dari beberapa produk KMRG. Produk lainnya adalah Ganesha digital library, software untuk otomatisasi perpustakaan (GNU-Lib) serta software untuk katalog database perpustakaan (http://isisnetwork.lib.itb.ac.id). Misi jaringan ini adalah mengelola ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Indonesia, dalam satu jaringan yang terdistribusi dan terbuka. Metadata Dalam ilmu komputer, ada format standar yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu. Format yang umum digunakan, terutama dalam pertukaran data adalah XML (Website XML). XML atau eXtensible Markup Language merupakan format data yang sering digunakan dalam dunia world wide web. XML terdiri atas sekumpulan tag yang terdiri dari data. Satu set data dalam XML dimulai dengan tag pembuka dan diakhiri dengan tag penutup. Format XML diadopsi oleh standar metadata Dublin Core. IDLN menggunakan metada Dublin Core , yaitu sebuah skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Arsitektur Jaringan Informasi mengenai ilmu pengetahuan – yang disebut metadata – dikirimkan ke satu server pusat IndonesiaDLN oleh mitra, dan server inilah yang berfungsi sebagai hubungan atau terminal yang menerima metadata dari server mitra perpustakaan digital. IndonesiaDLN tidak akan memonopoli informasi yang dimilikinya, tetapi akan disebar dan direplikasi ke server mitra lainnya di IndonesiaDLN. IndonesiaDLN hanya akan mengarahkannya atau membawa seseorang ke file yang dituju. Jadi file yang berukuran besar tetap dikelola dan disimpan server sumber, bukan oleh terminal. Hingga akhir tahun 2001, dua server utama sudah terpasang di ITB, yaitu GDL-Network Hub (http://gdlhub.indonesiaDLN.org) dan IndonesiaDLN Hub (http://hub.indonesiaDLN.org). Sedangkan mitra yang kini sudah bergabung antara lain Perpustakaan Pusat ITB, Program Pasta Sarjana ITB (Bandung), Universitas Muhammadiyah (Malang), Universitas Katolik Atmajaya (Jakarta), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Jakarta), Mesjid Salman ITB (Bandung), Magister Manajemen Agribisnis IPB (Bogor), dan Universitas Bina Nusantara (Jakarta). Kontributor IndonesiaDLN adalah personal, warnet, dan institusi lainnya. Untuk bergabung ada dua syarat utama, yaitu memiliki potensi ilmu pengetahuan dan bersedia berbagi ilmu pengetahuan. Tipologi Jaringan IDLN Perkembangan yang cukup pesat dari Indonesia Digital Library Network ternyata secepat kematiannya. Saat ini situs IDLN sudah tidak bisa diakses lagi. B. Spektra Virtual Library (SVL) Sejarah Spektra Virtual Library terbentuk dari jaringan kerjasama InCUVL yaitu Indonesia Christian University Virtual Library yang terbentuk pada tahun 1996. Disebut ‘virtual’ karena SVL (Spektra Virtual Library) menggunakan internet baik sebagai jaringan kerjasama bagi para anggotanya dan juga karena menyediakan layanan perpustakaan secara virtual bagi pengguna dunia maya. SVL secara umum bertujuan untuk sharing informasi ilmu pengetahuan antara pengguna software New Spektra sehingga dapat dipergunakan oleh pengguna perpustakaan yang tergabung dalam jaringan maupun masyarakat umum sehingga dapat menciptakan masyarakat belajar (learning community) di Indonesia. Perpustakaan yang tergabung dalam SVL adalah; • Universitas Kristen Petra, Surabaya • Perpustakaan Yayasan Kasih Keluarga Kristus, DKI Jakarta • Perpustakaan Institut Teknologi Nasional, Bandung • Perpustakaan Gereja Bethany Indonesia, Surabaya • Perpustakaan Gereja Kristen Indonesia Emaus, Surabaya • Perpustakaan Gereja Kristen Abdiel Gloria Surabaya • Perpustakaan Pribadi Radius Prawiro, DKI Jakarta • Perpustakaan STT Indonesia Timur, Makassar • Perpustakaan Seminari Walter Post Theological, Jayapura, Papua • Rantepao Theological Seminary University Library, Makassar • Perpustakaan Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang • Perpustakaan Universitas Kristen Indonesia, DKI Jakarta • Perpustakaan Universitas Kristen Indinesia Paulus, Makassar • Perpustakaan Universitas Kristen Indonesia Toraja, Makale • Perpustakaan Universitas Kristen Krida Wacana, DKI Jakarta • Perpustakaan Universitas Kristen Palangkaraya, Palangkaraya • Perpustakaan Universitas Kristen Methodist Indonesia, Medan • Perpustakaan Universitas Pelita Harapan, Tangerang • Perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Central Java • Perpustakaan Universitas Kristen Tomohon, Tomohon • Jaffray Theological Philosophy Seminary Library, Makassar, South Celebes • Cipta Wacana Christian University Library, Malang, East Java • Theological Seminary of HKBP Library, Pematang Siantar, North Sumatera • Maranatha Christian University, Bandung, West java • Nusantara Bible Seminary, Malang, East Java • P.T. Pelabuhan Indonesia III, Surabaya • Bandung Theological Seminary, Bandung, East Java • Sekolah Tinggi Teologia Jemaat Kristus Indonesia, Salatiga, Central Java • Perpustakaan Yayasan Cita Hati, Surabaya, East Java • Perpustakaan GKI Kepa Duri, Jakarta, DKI Jakarta • Perpustakaan SMUK Petra 2, Surabaya, East Java • Perpustakaan Wesley International School, Malang, East Java • Perpustakaan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang • Gereja Pantekosa Pusat Surabaya “Elim”, Surabaya, East Java • Abdiel Theological Seminary, Ungaran, Central Java • GKI “I.S. Kijne” Theological Seminary, Abepura, Papua • GKE Theological Seminary, Banjarmasin, South Borneo • GMIH Tobelo Theological Seminary, Tobelo • ITKI (Faculty of Theology), Jakarta, DKI Jakarta • Perpustakaan GKST Tentena Theological Seminary, Poso • Perpustakaan GKI Pondok Indah, DKI Jakarta • Perpustakaan GKI Samanhudi, DKI Jakarta • Perpustakaan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jawa Timur, Surabaya • Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya Metadata SVL menggunakan metadata Dublin Core, sehingga memungkinkan untuk saling dipertukarkan dengan jaringan perpustakaan digital yang sama-sama menggunakan metadata Dublin core, termasuk dengan IDLN dan Garuda. Sharing informasi yang dilakukan oleh SVL tidak hanya sekedar sharing metadatanya saja tetapi juga memungkinkan sharing file full text, sehingga untuk mengakses file full text, pengguna tidak perlu harus menghubungi pemilik data lokal. Union Catalog dari jaringan kerjasama InCUVL dapat diakses melalui http://svl.petra.ac.id Meskipun masih tetap dapat digunakan, namun data tidak di update, karena saat ini Perpustakaan UK Petra sebagai penggagas jaringan Spektra Virtual Library tidak memiliki programmer tetap. C. Garuda (Garba Rujukan Digital Indonesia) Sejarah Garuda (Garba Rujukan Digital) dibuat dan dikembangkan sebagai portal yang mengintegrasikan data karya ilmiah dari perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Portal Garuda secara resmi diluncurkan pada tanggal 15 Desember 2009 di Jakarta oleh Prof. Dr. Fasli Jalal (Dirjen Dikti Depdiknas). Garuda (Garba Rujukan Digital) adalah portal penemuan rujukan ilmiah Indonesia yang merupakan titik akses terhadap karya ilmiah yang dihasilkan oleh akademisi dan peneliti Indonesia. Garuda yang mencakup antara lain e-journal domestik, tugas akhir mahasiswa (skripsi, tesis, dan disertasi), paten, prosiding, Standar Nasional Indonesia (SNI), Pidato pengukuhan guru besar para akademisi dan peneliti, dikembangkan oleh Direktorat P2M-Dikti Depdiknas bekerjsama dengan PDII-LIPI serta berbagai perguruan tinggi dalam hal penyediaan konten. Publik dan masyarakat umum yang melakukan penelusuran suatu karya ilmiah melalui Garuda dapat dengan segera mendapatkan informasi tentang keberadaan karya ilmiah yang dicari. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Konten lokal yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi/Lembaga, selama ini memang kurang di-expose sehingga memberikan kesan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di Indonesia ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Garuda bertujuan agar hasil karya para akademisi dan peneliti Indonesia dapat dikelola secara terintegrasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Metadata Metadata yang digunakan dalam portal Garuda adalah metadata Dublin Core. Metadata Dublin Core adalah cara terstandarisasi (NISO Standard Z39.85-2001) untuk mendeskripsikan suatu informasi. Metadata Dublin Core dapat digunakan untuk mendefinisikan dokumen fisik maupun digital. Ada dua level metadata Dublin Core, yang pertama adalah simple dan kedua adalah qualified yang menambahkan encoding scheme, enumerasi nilai dan informasi lainnya. Arsitektur Jaringan Metode yang digunakan dalam pengembangan arsitektur aplikasi ini mengikuti model dengan menempatkan sebuah gateway sebagai perwakilan dari tiap protokol yang ada. Gateway ini bertugas untuk mengumpulkan data dari client-client di bawahnya dan menyediakan sebuah service agar pengguna yang ingin mencari data di protokol yang bersangkutan, hanya perlu memanggil service yang disediakan oleh gateway tersebut. Garuda menggunakan dua buah gateway. Satu gateway sebagai penghubung kontributor yang menggunakan protokol OAI-PMH, dan satu gateway lagi digunakan bagi kontributor yang menggunakan CSV (Comma Separated Value). Setiap gateway akan menjadi pusat informasi untuk melakukan transformasi data yang diterima kedalam bentuk standar metadata yang digunakan oleh Garuda. Bentuk arsitektur yang digunakan terlihat pada gambar berikut Keseluruhan data yang dikumpulkan disatukan dan di index dalam sebuah retrieval system. Selanjutnya, dari retrieval system ini dibuatlah service yang menyediakan fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh web interface untuk menampilkan hasil pencarian. Interkoneksi Garuda Saat ini portal Garuda merupakan portal ilimiah pertama di Indonesia yang dapat diakses melalui http://e-journal.dikti.go.id dan http://jurnal.dikti.go.id Garuda dapat menjadi portal ilmiah dan jaringan digital yang besar jika terus dikembangkan oleh pengelola dengan cara mencari mitra untuk bergabung sebagai kontributor. Saat ini sekitar 50 perguruan tinggi dan pusat informasi yang bergabung dan menjadi kontributor tetap Garuda. Hambatan Yang Dihadapi Dalam Pengembangan Jaringan Perpustakaan Digital Di Indonesia. • Banyak kendala yang ditemukan, terutama terkait dengan perbedaan standar yang digunakan dalam implementasi sistem perpustakaan, terutama dalam hal metadata dan protokol pertukaran data. Perpustakaan-perpustakaan yang berbeda dalam metadata dan juga protokol komunikasi akan sulit untuk saling bertukar data. • Kendala lainnya adalah beragamnya spesifikasi komputer dan bandwidth jaringan yang dipakai dalam proses komunikasi tersebut. Keberagaman spesifikasi dan bandwidth jaringan tersebut dapat menyebabkan terjadinya bottleneck dalam proses komunikasi apabila kita salah dalam memilih perpustakaan digital yang akan diajak berkomunikasi. • Perbedaan persepsi dan pendapat terkait hak cipta. Sebagaimana kita ketahui bahwa masalah hak cipta yang terbagi dua: hak cipta pada dokumen yang didigitalkan dan hak cipta pada dokumen di communication network. Di dalam hukum Indonesia, hak cipta masalah transfer dokumen lewat jaringan komputer belum didefinisikan dengan jelas. Sehingga hal ini menimbulkan persepsi dan interpretasi yang berbeda-beda pada pengelola perpustakaan yang dapat menimbulkan masalah ketika mereka berjejaring dalam sebuah jaringan perpustakaan digital. • Masalah penarikan biaya. Perbedaan kebijakan pada perpustakaan terkait penarikan biaya dari akses koleksi digital menjadi masalah tersendiri yang harus dapat dipecahkan. Penelitian di bidang ini banyak mengarah ke pembuatan sistem deteksi pengaksesan dokumen atau pun upaya mewujudkan electronic money (Purtini, n.d.). • Kendala yang bersifat non-teknis terutama terkait dengan ego dan kebebasan yang diinginkan oleh setiap pengelola perpustakaan. Memaksakan setiap perpustakaan untuk menggunakan platform dan standar yang sama bukanlah hal yang bijaksana dan sulit dilakukan karena mengharuskan mereka melakukan investasi ulang terhadap aplikasi yang mereka miliki termasuk proses migrasi data. • Kurangnya SDM bidang IT yang mau bekerja di Perpustakaan, menyebabkan perpustakaan kekurangan programmer yang bisa menangani maintenance data dan sharing data secara digital. • Ketergantungan jaringan perpustakaan digital pada bantuan dana dari pihak luar sehingga ketika bantuan dana sudah tidak ada maka jejaring tidak dapat berjalan. Sebenarnya masalah dana bisa diatasi jika SDM perpustakaan dapat menangkap peluang bisnis yang bisa timbul dari jaringan perpustakaan digital, misalnya dengan memberi ruang bagi iklan produk terkait sehingga dapat menjadi sumber dana bagi jaringan perpustakaan digital. • Beragamnya kondisi perpustakaan yang ikut berjejaring dalam jaringan perpustakaan digital menyebabkan ketidak-seimbangan dalam pembagian beban kerja, sehingga beban kerja biasanya banyak ditanggung oleh perpustakaan penggagas jaringan sehingga ketika terjadi sesuatu pada pada perpustakaan penggagas, misalnya tidak memiliki programmer, maka jaringan tidak berjalan atau mandeg. • Jaringan perpustakaan digital yang ada di Indonesia biasanya masih bersifat parsial, dan terjadi pada berbagai jenis perpustakaan maupun lembaga informasi yang bukan sejenis dari sisi pengguna maupun bidang ilmu yang dilayani, akibatnya terjadi kesenjangan dan perbedaan kebutuhan informasi yang sangat tajam. Beberapa Perguruan Tinggi mengembangkan platform elearning sendiri, diantaranya: • UGM dengan E-Lisa http://elisa.ugm.ac.id/ • Unissula Semarang http://www.unissula.ac.id/sinau/ • Amikom jogja http://elearning.amikom.ac.id/ Beberapa perguruan tinggi menggunakan platform Moodle yang open source, diantaranya: • ITB http://kuliah.itb.ac.id/ • UNPAR http://elearning.unpar.ac.id/ • Gunadarma http://elearning.gunadarma.ac.id/ • ITS http://share.its.ac.id/ • Unibraw http://inherent.brawijaya.ac.id/vlm/ • Unitomo http://elearning.unitomo.ac.id Sistem e-Learning tersebut ditujukan untuk menjembatani dosen/guru dengan mahasiswa/siswa dalam proses belajar mengajar di luar jam kuliah/sekolah. Undang-undang RI no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 31 menyatakan: • Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. • Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada semua jalur,jenjang dan jenis pendidikan. • Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan • Bentuk pendidikan jarak jauh mencakup program pendidikan tertulis (korespondensi), radio, audio/video, TV dan/atau berbasis jaringan komputer Dengan demikian sebenarnya eLearning dimungkinkan untuk penggunaan PJJ pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Pada tahun 2006, ada sekitar 69 Provider (Perguruan Tinggi), yang menyelenggarakan PJJ untuk D3 TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan), diantaranya : • PENS ITS http://pjj.eepis-its.edu/ • UM, Polinema, UMM, VEDC dalam malang Joint Campus http://www.malangjc.org Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengikuti perkuliahan secara tatap muka dalam 1 minggu tiap bulannya, sedangkan 3 minggu lainnya menggunakan eLearning di tempat magang/kerja masing-masing mahasiswa. Pada tahun 2007, diselenggarakan PJJ S1-PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). LPTK penyelenggara pendidikan jarak jauh program S-1 PGSD, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Cendrawasih, Universitas Nusa Cendana, Universitas Katolik Atma Jaya, dan Universitas Tanjungpura. Universitas yang Lulus Program Pendidikan Jarak Jauh Tipe B (Mahasiswa Tidak Diasramakan): Universitas Negeri Solo, Universitas Lampung, Universitas Tanjungpura, Universitas Mataram dan Universitas Bali. Beberapa contoh eLearning guna penyelenggaraan PJJ S1-PGSD adalah :http://s1pjjpgsdforum.edublogs.org/, http://pjjpgsdjatim.wordpress.com/, dan http://www.umm.ac.id/pjj/ 2.6.3 Penerapan E-Book Sebagai Sarana Alternatif dalam Proses Pembelajaran Mahasiswa di Indonesia Secara sederhana E-Book dapat diartikan sebagai buku elektronik atau buku digital. Buku elektronik adalah versi digital dari buku yang umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang berisi teks atau gambar. E-Book sendiri menjadikan teks dan gambar tersebut dalam informasi digital baik dalam format teks polos, *pdf, *jpeg, *lit dan *html. Perkembangan E-Book di Dunia Mahasiswa Indonesia E-Book dengan segala kelebihan dan kekurangannya dapat menjadi sebuah pilihan bagi para mahasiswadi Indonesia untuk dijadikan sarana pembelajaran menggantikan buku cetak konvensional. Salah satu keunggulan E-Book dibanding buku cetak adalah kepraktisan. Dengan E-Book, diharapkan para pelajar tidak perlu kesulitan jika ingin membawa buku dalam jumlah banyak. Selain itu E-Book juga lebih mudah didistribusikan dan lebih interaktif sehingga mendorong meningkatnya pengguna E-Book di kalangan mahasiswa. Sayangnya, untuk mengetahui struktur pasar E-Book di Indonesia memang agak sulit, karena pasarnya sendiri masih dalam tahap awal perkembangan. Dalam perkembangannya, E-Book di dunia mahasiswa juga mengalami kendala seperti yang terjadi kepada para mahasiswa di Amerika Serikat. Harga dan kebiasaan atau cara belajar para pelajar adalah dua kendala utama bagi para mahasiswa di Amerika Serikat untuk mengadopsi atau menggunakan E-Book untuk menggantikan buku cetak. Di Indonesia sendiri, kendala lain yang timbul adalah kesulitan mahasiswa untuk memiliki atau mengakses media elektronik untuk membaca E-Book karena tingkat ekonomi yang lebih rendah dari Amerika Serikat sehingga media pembaca bentuk elektronik seperti laptop, notebook maupun tablet menjadi barang yang masih cukup mahal bagi sebagian bagi mahasiswa Indonesia. Hal ini semakin diperburuk dengan tingkat melek teknologi masih relatif belum merata di Indonesia bahkan di kalangan mahasiswa sendiri. Konsekuensinya tidak semua mahasiswa dapat mengakses internet untuk mendownload E-book. Jika lebih banyak buku yang diterbitkan melalui E-book tanpa tersedia versi buku cetaknya, maka informasi yang terdapat didalam E-book tidak akan dapat diakses oleh seluruh mahasiswa. Harga adalah faktor penting lain bagi mahasiswa dalam membeli buku. Harga buku yang terlalu tinggi tentu akan menyulitkan mahasiswa untuk mendapatkannya. Hal ini bisa dilihat dalam praktek mahasiswa Indonesia yang membeli buku bekas dan buku kopian (buku yang difoto kopi) dengan harapan dapat mendapatkan buku dengan harga yang lebih murah. Metode belajar mahasiswa yang terbiasa dengan buku cetak juga menjadi kendala dalam pengadopsian E-Book. Bagi kebanyakan mahasiswa yang sering mereka belajar dengan buku cetak sehingga terbiasa dengan buku cetak. Ketika berganti dengan E-Book sangat besar kemungkinan para mahasiswa akan menjadi tidak nyaman. Kebiasaan mahasiswa untuk membuat catatan-catatan kecil ketika belajar, membaca dengan cepat dan berpindah dari satu bagian kebagian lain dengan cepat, atau menggaris bagian-bagian yang dianggap penting adalah bagian dari cara belajar para mahasiswa yang mungkin tidak dapat dilakukan di dalam E-Book. Diharapkan ke depan nya ada faktor pendukung lain yang membantu supaya penggunaan media pembaca bentuk elektronik lebih merata. Sebagai contoh dengan mengadakan program pemberian subisidi oleh perguruan tinggi terhadap penjualan laptop/notebook ke kalangan mahasiswanya. Tentunya program ini membutuhkan dukungan dari industri dan pemerintah sebagai pihak regulator. 2.6.4 Penggunaan E-learning di Universitas Terbuka (UT) E-learning telah menjadikan pembelajaran melalui elearning sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dipilih oleh mahasiswa seperti tutorial online, suplemen berbasis web, latihan mandiri online, kittutorial, dan sebagainya. Layanan Perpustakaan UT Layanan penyimpanan dan pengolahan Local Content UT. Jenis layanan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat organisasi untuk menyimpan bahan pustaka mereka yang penting bagi organisasi di perpustakaan. Layanan ini dapat dilakukan secara proaktif oleh pustakawan dengan mendatangi para peneliti di lingkungan organisasi dan mendata bahan pustaka yang akan disimpan di perpustakaan. Layanan temu kembali dan penelusuran. Layanan ini diberikan kepada para pemustaka yang ingin mencari Local Content UT yang ada di perpustakaan. Pustakawan secara aktif melakukan penelusuran dan mendistribusikan kepada pemustaka yang memesan bahan pustaka tersebut. Layanan download informasi. Layanan ini dilakukan melalui sarana penelusuran online yang disediakan perpustakaan. Para pemustaka dari berbagai tempat dapat mengambil informasi yang diperlukan tanpa harus datang ke perpustakaan. Layanan Modul Online Layanan ini dilakukan mulai tahun 2003 akhir, yang salah satu tujuannya membantu mahasiswa dalam mengakses informasi khususnya Bahan Materi Pokok (modul) pembelajaran di UT. Layanan ini ternyata banyak antuias dari mahasiswa UT, hal ini terbukti dalam satu minggu di launching ada sekitar 200 ribu lebih mahasiswa yang mengaksesnya. Cara Mengakses Modul UT, yaitu masuk ke situs UT yaitu www.ut.ac.id setelah itu pilih perpustakaan digital, lalu pilih BMP (bahan Materi Pokok) maka akan tampil seperti dibawah ini, Tinggal pilih Fakultasnya. Lalu Pilih Judul yang di kehendaki akan tampil seperti ini, Disinilah peran perpustakaan menjembatani mahasiswa dengan Dosen (staf akademik) dalam hal ini dengan adanya modul online bisa membantu mahasiswa dalam hal pembelajaran di tingkat pendidikan Tinggi, yang sesuai dengan Misi UT yaitu: Menyediakan akses pendidikan tinggi yang berkualitas dunia bagi semua lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan berbagai program PTTJJ, Mengkaji dan mengembangkan sistem PTTJJ dan Memanfaatkan dan mendiseminasikan hasil kajian keilmuan dan kelembagaan untuk menjawab tantangan kebutuhan pembangunan Nasional. BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Dapat disimpulkan bahwa E-learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Perbedaan Pembelajaran antara Metode Tradisional dan Metode E-Learning yaitu pada Metode Tradisional, seorang guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuannya kepada siswa atau mahasiswa. Dapat pula diamati fungsi e-learning sebagai komplemen, pengganti (substitusi) dan suplemen dengan karakteristik e-learning, manfaat e-learning serta tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan e-learning. Beberapa manfaat e-learning telah banyak diterapkan dalam berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia dengan adanya Perkuliahan dengan E-learning berbasis Moodle, Perpustakaan Digital, E-Book, dan penggunaan E-learning Di Universitas Terbuka (UT). 3.2 SARAN Setelah melakukan pembahasan penulis ingin memberikan masukan yang berupa saran bahwa penulis mengharapkan apa yang dituliskan tidak hanya menjadi suatu teori saja, namun dapat menjadi wacana untuk di praktekkan didalam kehidupan bermasyarakat sebagai suatu pemahaman bahwa dalam persaingan yang ketat di era globalisasi seperti saat ini sangat dibutuhkan suatu konsep keterampilan pembelajaran yang juga berbasis E-learning guna mendukung proses belajar mengajar di sekolah bahkan di Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Demikianlah Makalah yang sederhana ini saya buat untuk memenuhi syarat pembelajaran di mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan ini mudah-mudahan dapat diterima dengan baik bagi pembaca. Apabila ada kesalahan dan kekurangan baik isi dan kata-kata saya mohon maaf, kritik dan saran juga saya harapkan dari pembaca agar saya bisa membuat yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA Alfian, dkk. 2012. “Makalah Penerapan E-Book Sebagai Sarana Alternatif dalam Proses Pembelajaran Mahasiswa di Indonesia”, Untuk tugas mata kuliah System Information and Technology. Jogja: UGM. Anonim. 2013. “Kajian Pembelajaran Online Berbasis Wiki Di Lingkup Perguruan Tinggi”. [online]. Tersedia: http://www.academia.edu/2485322/Kajian_Pembelajaran_Online_Berbasis_Wiki_Di_Lingkup_Perguruan_Tinggi?login=&email_was_taken=true&login=&email_was_taken=true. [diakses 28 Januari 2014] Belawati, T. (2003). “Penerapan E-learning Dalam Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia. Cakrawala Pendidikan: E-learning dalam pendidikan (hal. 394-417)”. Jakarta: Universitas Terbuka. Digital Libraries Federation (1998). A Working Definition Of Digital Library . [online]. Tersedia: http://www.diglib.org/about/dldefinition.htm. [diakses 28 Januari 2014] Prakoso, Setiyo. (2005). Membangun E-learning Dengan Moodle. Andi Opsett. Jakarta. Yanti, Arlisna. [2005]. “Makalah E-Learning”. [online]. Tersedia: http://arlisnayanti.blogspot.com/2013/03/makalah-e-learning.html. [diakses 28 Januari 2014] Pardede, Timbul. 2011. “Makalah Pemanfaatan E-Learning Sebagai Media Pembelajaran Pada Pendidikan Tinggi Jarak Jauh”. [online]. Tersedia: http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fmipa201144.pdf. [diakses 28 Januari 2014]. Pudjiono . 2006. Perpustakaan Digital: sudah saatnya Suatu Alternatif Pengembangan Di Perpustakaan Universitas Airlangga. [online]. Tersedia: http://eprints.rclis.org/10449/1/perpustakaan_digital.pdf. [diakses 28 Januari 2014]. Rianto, Sugeng. Mengembangkan Perkuliahan dengan Elearning berbasis Moodle. [online]. Tersedia: http://lecture.ub.ac.id/anggota/priantos/blogs/. [diakses 28 Januari 2014]. Sismanto. 2008. “Manajemen Perpustakaan Digital”. [online]. Tersedia: http://mkpd.wordpress.com/2008/09/08/kupas-buku-manajemen-perpustakaandigital/. [diakses 28 Januari 2014]. Wulandari, Dian. (2013). ”Makalah Perpustakaan Digital Di Indonesia”. [online]. Tersedia: http://perpustakaan.bapeten.go.id/jaringan-perpustakaan-digital-di-indonesia-hambatan-dan-wacana-pengembangannya/. [diakses 28 Januari 2014]. Terry Anderson & Fathi Elloumi. “Theory and Practice of Online Learning”. [online]. Tersedia: cde.athabascau.ca/online_book. Atabascha University. Terry Anderson & Fathi Elloumi. ““Delivery Learning On The Net (The Why, What, and How Online Education”. [online]. Tersedia: cde.athabascau.ca/online_book. Atabascha University.

Jumat, 06 Desember 2013



UJIAN TENGAH SEMESTER
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan yang dibimbing oleh Bapak Danang Tandyonomanu

Description: http://basrib.files.wordpress.com/2011/11/logo_unesa_new.png






Disusun Oleh:
Nama  : Anggelina Morantri Bili
NIM    : 137905013

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI S2 TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Desember 2013
Soal
1.      Penerapan elearning di Indonesia. Apa yang menjadi kendala dan kemungkinan yang muncul. Jelaskan kendala dan kemungkinan tersebut, dan bagaimana mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan elearning jika diterapkan di indonesia.
2.      Interaksi merupakan bagian yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pemanfaatan elearning, interaksi yang muncul di antara peserta pembelajaran menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai?
3.      Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan elearning? Bagaimana dengan ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini?
4.      Pemanfaatan elearning ditengarai akan menyebabkan perilaku penyendiri tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya. Bagaimana upaya teknolog pembelajaran dalam mengatasi kemungkinan tersebut?

Jawaban
1.      Kendala dan kemungkinan yang muncul dalam menerapkan e-learning di Indonesia, diantaranya sebagai berikut:
A.    Biaya awal pengoperasian (Investasi awal). Banyak orang atau instansi pendidikan belum bisa menggunakan sistem pembelajaran ini karena masalah biaya, mulai dari membeli peralatan sampai pengoperasiannya pada awalnya sangat dibutuhkan biaya besar. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia adalah negara kepulauan yang berarti dalam penyebaran/penyamarataan semakin membutuhkan biaya yang besar. Mengenai ini pernah dikemukan oleh wakil presiden RI yang tercatat dalam compas, “Untuk mengimplementasikan e-learning, perlu dibangun terlebih dulu teknologi informasi yang handal hingga seluruh pelosok dan perlu dikembangkan sistem softwarenya yang mampu melayani semua interaksi dalam proses pembelajaran memerlukan biaya yang tidak sedikit”.
B.     Internet mahal; Untuk menggunakan internet masih membutuhkan biaya yang kurang bisa dijangkau oleh semua pihak. Hal ini juga sangat dirasakan oleh daerah-daerah pelosok, umumnya di bagian Indonesia Timur, misalnya di Sumba (NTT) bila ingin menikmati faislitas internet masih harus membayar 10.000 ribu/jam sedangkan di Jawa hanya membutuhkan 3.000/jam. Bila dibandingkan lagi dengan di negara maju seperti di Amerika, masyarakat dapat mengakses internet dengan mudah, cepat dan tanpa membayar.
C.     Belum tersedianya hotspot di semua instansi pendidikan yang ada di Indonesia
Untuk alasan tertentu, seperti biaya memang belum banyak instansi-instansi pendidikan yang bisa menyediakan hotspot.
D.    Teknologi dan infrastruktur. ketersedian dan kelayakan infrastruktur E learning itu sendiri dalam hal ini belum tercukupinya media pendukung seperti PC, laptop, LCD, dan lain-lain. E-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan yang handal, dan teknologi yang tepat. Akan tetapi, ketersediaaan infrastruktur dan teknologi ini masih belum memadai bagi beberapa instansi pendidikan di Indonesia. Hal ini juga dirasakan oleh daerah-daerah tertinggal.
E.     Belum siapnya SDM yang kita miliki; Meliputi pengajar dan siswa/mahasiswa. Masih banyak pengajar, terutama pengajar yang lama belum bisa menggunakan e-learning dalam pembelajaran karena mereka memang belum pernah mengenal apa itu e-learning dan karena sudah lamanya mereka menggunakan sistem klasik ini. Dari siswa/mahasiswanya pun masih banyak yang belum bisa menggunakan e-learning secara maksimal, karena mereka masih menggunakan cara klasik. Sebagian pendidik juga ada yang tidak dapat menggunakan e-learning karena memang mereka tidak mendapatkan pembelajaran tersebut saat menjalani studi. Seorang guru olah raga misalnya pada saat studi mereka tidak diajarkan bagaimana menggunakan e-learning secara spesifik sehingga apabila diterapkan dalam pembelajaran olah raga, guru tersebut bingung dan pembelajaran tidak efektif. Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Berdasarkan laporan IPM yang dirilis United Nation Development Program (UNDP), pada tahun 2010 IPM Indonesia berada pada urutan 108 dari 166 negara. Keterbatasan informasi dan ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia, juga menjadi salah satu penyebab rendahnya penggunaan internet dalam negeri karena disajikan dalam bahasa Inggris. Kesadaran masyarakat Indonesia untuk berbagi ilmu pengetahuan masih sangat rendah.
F.      Budaya Independent Learning. Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pelatihan melalui komputer, dimana hal ini baru dimiliki oleh sebagian kecil SDM. Umumnya yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah melakukan pembelajaran karena adanya pengawasan dari lembaga pendidikan/sekolah/guru. Hal ini terkait dengan kesadaran. Dari segi proses belajarnya sendiri, diperlukan motivasi yang kuat dari seorang murid untuk menyelesaikan proses belajar  dan guru pada akhirnya akan bertindak sebagai fasilitator.
G.    Desain Materi; Penyampaian materi dalam bentuk e-learning, tentu berbeda dengan penyampaian materi dalam training konvesional. Penyampain materi melalui e-learning perlu dikemas dalam bentuk yang learner centric. Saat ini masih sangat sedikit instructional designer yang berpengalaman dalam membuat suatu paket pelajaran e-learning yang memadai.
H.    Sistem pendidikan yang belum berbasis e-learning; Belum banyak instansi-instansi pendidikan di Indonesia yang berbasis e-learning, sehingga banyak juga yang belum bisa merasakan e-learning ini.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan e-learning jika diterapkan di Indonesia:
A.    Biaya awal pengoperasian (Investasi awal), pemerintah harus berani mempunyai kebijakan yang mendukung ivestasi awal dalam membangun sistem pendidkan yang berbasis e-learning dengan telah mempertimbangkan berbagai dampak dan efek yang mungkin muncul dengan terlaksanannya e-learning. Saat ini Depdiknas mempunyai program pengembangan TIK yang mendukung terlaksanannya e-learning, yaitu:
a)      Bidang kejuruan, TIK menjadi salah satu jurusan di SMK. Pengembangan TIK secara teknis baik hardware dan software masuk dalam kurikum pendidikan.
b)      Pustekkom, sebagai salah satu ujung tombak dalam pengembangan TV pendidikan interaktif, E learning dan E SMA. Program ini bertujuan untuk mempersempit jurang perbedaan kualitas pendidikan antara kota besar dengan daerah.
c)      Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional), bertujuan untuk mengintegrasikan kedua program di atas agar terbentuk sebuah jaringan yang menghubungkan semua sekolah di Indonesia. Sehingga diperkirakan di masa depan semua sekolah di Indonesia akan terkoneksi dengan internet.
B.     Untuk masalah biaya penggunaan internet, sebaiknya pemerintah dan perusahaan-perusahaan telekomunikasi membuat suatu kesepakatan atau semacam kebijakan dan juga pastinya dana yang mendukung untuk menyediakan layanan internet murah terutama untuk bidang pendidikan bahkan gratis atau bisa juga dengan meyediakan hotspot bagi sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang belum memilikinya.
C.     Untuk masalah teknologi dan infrastruktur: pengadaan media untuk pelaksanaan e-learning seperti PC, laptop, LCD, dan lain-lain. Sebaiknya pemerintah menyediakan dana untuk sekolah atau perguruan tinggi yang membutuhkan dana untuk pengadaan media untuk mendukung terlaksana nya e-learning dan harus lebih diperhatikan masalah pemerataan khususnya untuk daerah-daerah tertinggal. Pengadaan infrastruktur server dan jaringan komputer serta penyediaan Learning Management System (LMS) sebagai ruang kelas virtual tempat berinteraksinya siswa dan pembelajar. Anggaran 20% untuk pendidikan kalau bisa lebih tinggi, itu lebih baik. Karena anggaran yang semakin besar untuk pendidikan, berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. Anggaran ini juga dialokasikan untuk mendukung terciptakan pembelajaran e-learning di Indonesia. Semakin tersedia sarana dan prasarana pendidikan, semakin baik kualitas pendidikan.
D.    Untuk masalah SDM, sudah seharusnya pemerintah atau instansi-instansi pendidikan mengadakan sosialisasi atau pelatihan tentang e-learning. Untuk pengajar, bisa dilakukan diklat mengenai penggunaan e-learning dalam pembelajaran, sehingga staf pengajar sudah siap untuk melaksanakan sistem baru ini. Untuk siswa, seharusnya mereka dikenalkan dengan e-learning sejak dini. Dalam pelatihan tersebut para staf pengajar akan diperkenalkan dengan ruang kelas virtual yang ada, termasuk bagaimana membuat kelas online, mengupload bahan ajar, melakukan pendaftaran siswa, proses evaluasi, dan sebagainya untuk menunjang e-learning.
E.     Pemerintah bisa juga membuat kesepakatan dengan negara lain untuk menjalin kerjasama atau dengan adanya bantuan. Terutama negara-negara yang sudah berhasil dalam pelaksanaan e-learning. Karena kesuksesan negara-negara tersebut dapat kita contoh untuk menyukseskan pelaksanaan e-learning di Indonesia.
F.      Melalui pelatihan-pelatihan yang dibuat, guru harus bisa mendesain materi pembelajaran.
G.    Dalam hal budaya. Meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar dengan banyak memberikan motivasi siswa.
2.      Upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai dan memungkinkan terjadinya komunikasi secara sinkron (syncronous) maupun tertunda (asyncronous). Hal ini dapat dilakukan dengan membangun e-learning terdiri dari tujuh langkah yaitu:
A.    Merancang e-learning yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan interaksi-interaksi yang harus ada dalam suatu pembelajaran. Sistem e-learning perlu mempertimbangkan dua hal utama, yakni; Peserta didik yang menjadi target dan Hasil pembelajaran yang diharapkan. Merancang dengan memperhatikan: a) Analisis kebutuhan; untuk mengetahui kesiapan faktor pendukung berupa alat, dana, pembuat kebijakan, dukungan teknis yang berupa komputer dan jaringan internetnya, sumber daya manusia sehingga tercipta interaktivitas didalamnya, b) Komponen analisis kemampuan dasar mengenai karakteristik siswa, c) Tujuan Umum Pembelajaran; Berisi tujuan umum yang harus dikuasai, d) Tujuan Khusus Pembelajaran; Sesuai kemampuan dasar serta karakteristik siswa.
B.     Mengembangan Materi; Mengembangkan bahan-bahan pembelajaran melalui internet yang dapat menigkatkan aspek interaktivitas didalamnya, meliputi:
a)      Pengembangan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran koperatif melibatkan kerja kelompok sehingga mendukung interaksi antara peserta didik, misalnya dengan menggunakan mailing list.
b)      Pendidik membuat dan menyusun materi pembelajaran sesuai dengan rancangan. Misalnya membuat Pembelajaran berbasis kompoter dengan model tutorial, simulasi dan instruksi games. Sumber daya yang diperlukan seperti audio, video, grafis dan lain-lain.
C.     Menerapkan atau melaksanakan e-learning yang melibatkan interaksi-interaksi yang harus ada dalam suatu pembelajaran dengan menggunakan beberapa hal sebagai berikut:
a)      Audio Conreferencing; sederhana dan relatif murah untuk penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh merupakan interaksi langsung dalam bentuk audio antar dua orang/lebih yang berada pada tempat berbeda.
b)      Videobroadcasting; merupakan teknologi e-learning interaktif yang bersifat satu arah yang bersifat audio visual. Contohnya dengan memakai Skype yang menggunakan media internet untuk melakukan percakapan seperti telepon dan bisa melihat dengan utuh.
c)      Videoconferencing; dapat memungkinkan seluruh pembelajar melihat, mendengar, dan bekerja sama secara langsung dapat memberikan visualisasi secara langsung dan lengkap dengan multi medi. Videoconferencing distance learning memungkinkan interaksi antara dua orang atau lebih, dua kelas pada tempat yang berbeda dan waktu yang bersamaan.
d)     Silabus Online; Seluruh pembelajar dan orang tua bisa memantaunya di silabus online, akan meningkatkan interaksi dengan lingkungan dan terjalin kontrol sosial juga akan mempermudah interaksi antara siswa dengan lingkungan.
e)      The World Wide Web (WWW); Situs yang diakses oleh pengajar/pembelajar kapan dan dimana saja. Lembaga pendidikan, sekarang hampir semuanya memiliki situs web.
f)       Electronic-mail (e-mail) atau surat elektronik; memungkinkan pembelajar untuk berkomunikasi dan saling mentransfer informasi. Mailing list merupakan perluasan dari e-mail dimana seseorang dapat mengirim pesan kepada sekelompok orang yang telah terdaftar untuk bergabung dalam kelompok diskusi. Sebagai contoh, seorang dosen memiliki daftar siswa yang tergabung dalam kelompok diskusi mata kuliah tertentu.
g)      Voice Mail; Sistem voice mail menyimpan dan menyampaikan pesan suara yang dirubah dalam bentuk digital. Pesan suara dikirim dalam bentuk diktat kepada penerima telepon mailbox.
D.    Mengevaluasi; Pendidik merefleksikan dan merevisi apa yang telah dilakukan mulai dari tahap analisis, desain, pengembangan, dan pelaksanaan telah mengoptimalkan aspek interaktivitas dalam e-learning atau tidak.
Gambaran secara umum dapat dilihat secara jelas dalam bagan singkat berikut ini:
3.      Pendidikan perlu mempertimbangkan persepsi dasar pemanfaatan tentang e-learning, yaitu:
  1. Electronic based E-learning, adalah pembelajaran yang memanfaatkan TIK, terutama perangkat yang berupa elektronik tidak hanya internet, melainkan perangkat seperti film, video, OHP, LCD projector, dan lain sebagainya.
  2. Internet Based, adalah pembelajaran yang menggunakan fasilitas internet yang bersifat online/ komputer yang terhubung dengan internet.
Berdasarkan dua persepsi dasar pemanfaatan tentang e-learning maka dengan mengggunakan e-learning memberikan banyak manfaat yang mendukung terselengaranya pendidikan yang lebih baik bila dilakukan dengan tepat. E-learning sebagai model maupun media pembelajaran dalam pendidikan memberikan peran dan fungsi yang besar bagi dunia pendidikan. Adapun manfaat e-learning dalam pendidikan lebih khusus nya proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Meningkatkan akses terhadap kesempatan belajar (increase access to learning opportunity) dan fleksibelitas siswa dalam belajar yang dapat digunakan dalam waktu kapan saja san dimana saja melalui berbagai sarana dan metode.
  2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility). Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan tidak tergantung pada penjadwalan tertentu. Sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan di mana saja. Tugas pembelajaran dapat diserahkan kepada guru/dosen/instruktur begitu selesai dikerjakan tanpa menunggu sampai bertemu.
  3. Terbentuknya komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima serta tidak terbatas dalam satu lokasi.
  4. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka.
  5. Meningkatkan kualitas pembelajaran (enhance general quality).
  6. Mengembangkan keterampilan dan kompetensi (develop skills and competencies) yang diperlukan siswa serta memberikan bekal kecakapan digital yang diperlukan dalam bidang ilmu, profesi, atau karir mereka.
  7. Mengakomodasi beragamnya gaya atau cara belajar (to meet the learning sytles/needs) sesuai dengan kebutuhan siswa. Beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning adalah: a) Learning by doing. Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari; contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator). b) Incidental learning. Mempelajari sesuatu secara tidak langsung, dengan strategi ini seorang mahasiswa dapat mempelajari lebih menarik. Misalnya mempelajari geografi dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata. c) Learning by reflection. Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasan tentang subyek dengan memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan memproses masukan ide/gagasan dari siswa. d) Case-based learning. Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus yang telah terjadi dengan cara menyerap informasi dari nara sumber ahli tentang kasus yang telah terjadi atas materi, misalnya lewat video. e) Learning by exploring. Melakukan eksplorasi terhadap subyek. Aplikasi menyediakan informasi untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa.
  8. Biaya dalam hal meningkatkan efektivitas dana (cost effectivinees). Banyak biaya yang bisa dihemat dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota/negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar.
  9. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Penyempurnaan bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Didasarkan juga atas umpan balik dari siswa maupun hasil penilaian guru/dosen/ instruktur selaku pembina materi.
10.  Meningkatkan interaksi pembelajaran, dengan adanya interaksi antara pembelajar, materi pembelajaran, dan pengajar. Sebab dengan tidak adanya tatap muka langsung biasanya para pembelajar lebih berani mengungkapkan pendapat/pertanyaa substansial terhadap materi. Siswa dapat belajar (me-review) bahan ajar setiap saat dan dimana saja.
  1. Jangkauan pembelajaran lebih luas. Tersedianya sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas pada tempat-tempat tertentu saja.
Di antara banyak fasilitas e-learning menurut Onno W. Purbo (2002), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”. Jadi dalam mendesain e-learning dalam pendidikan harus melibatkan juga aplikasi standar internet yang ada. Peranan para ilmuan teknolog pendidikan adalah merancang dengan mempertimbangkan dan menggunakan kawasan teknologi pembelajaran, terdapat lima kawasan yang didasarinya yaitu kawasan perencanaan, kawasan pengembangan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan dan kawasan penilaian. Dalam melakukan ini harus mempertimbangkan apakah: (1) Memperluas kesempatan belajar, (2) Meningkatkan efisiensi, (3) Meningkatkan kualitas belajar dan iteraktivitas didalamnya, (4) Meningkatkan kualitas mengajar, (5) Memfasilitasi pembentukan keterampilan, (6) Mendorong belajar sepanjang hayat berkelanjutan, (7) Meningkatkan perencanaan kebijakan dan manajemen, (8) Mengurangi kesenjangan digital. Ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini, dapat di lihat dengan jelas pada beberapa hal yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. yang menyatakan dalam tulisan nya yang dijelaskan dibawah ini: a) Corak interaktif sumber belajar dalam e-learning memungkinkan siswa untuk terus meningkatkan keterlibatannya dengan pengembangan isi. Sebagai contoh, para siswa dapat mengakses perpustakaan maya di seluruh dunia. b) Pembelajaran online menyediakan perkakas teknis yang membuat belajar lebih mudah. c) Teknologi simulasi tau visualisasi dengan computer dapat membantu siswa untuk belajar sistem yang kompleks dengan cara yang lebih kongkrit. Komunikasi percakapan berbasis komputer (Computer Mediated Chatting/CMC) dan bulletin board. d) Dengan adanya teknologi internet ini sistem penyampaian dan komunikasi (de­livery system and communication) antara siswa dengan guru, guru dengan guru atau siswa dengan siswa dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan cara, baik secara bersamaan (synchronous) maupun (asynchronous). Beberapa bentuk komunikasi yang dapat dilakukan melalui: dialog elektronik (chatting); surat elektronik (e-mail, asynchronous); konferensi kelompok melalui surat elektronik (mailing list) dan konferensi jarak jauh (teleconference). Hal ini terlihat jelas dalam pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia contohnya dengan adanya EdukasiNet, yang merupakan hasil secara lansung didesain juga oleh tenaga-tenaga lulusan teknologi pendidikan. Lewat EdukasNet terlihat jelas bahwa pendidikan di Indonesia saat ini sangat mempertimbangkan ada nya e-learning dalam berbagai aspek pendidikan.  EdukasNet adalah program jaringan sekolah yang dikembangkan oleh Pustekkom yang berfungsi sebagai 1) wahana komunikasi lintas sekolah; 2) wadah sumber belajar; dan 3) wahana berbagi informasi antar sekolah di Indonesia. Sebagai portal pendidikan, EdukasiNet dapat diakses oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja melalui url:http://www.e-dukasi.net.  
4.      Upaya teknolog pembelajaran dalam mengatasi perilaku penyendiri tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya dalam pemanfaatan e-learning sesuai dengan domain-domain Tekologi Pembelajaran:
·         Kawasan Desain pembelajaran yang tetap melibatkan aspek interaksi sosial di dalam pemanfaatan e-learning hal ini mungkin dapat diatasi dengan cara mengoptimalkan interaksi dalam group. Kawasan Desain meliputi studi mengenai desain sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran dan karakteristik pembelajaran. Misalnya dengan merancang strategi pembelajaran yang bersifat Project Learning dan Kooperatif Learning untuk mendiskusikan topik dengan cara chatting/audiocoferece/videoconference melalui internet dalam waktu yang bersamaan (sinkronous) atau dalam waktu yang berbeda (asinkronous) dengan siswa mendiskusikan sesuatu suatu topic secara kelompok melalaui via email, bulletin board, dan lain-lain.
·         Kawasan Pengembangan mengenai adanya pesan dalam isi, strategi pembelajaran yang didorong oleh teori dan manifestasi fisik dari teknologi (perangkat keras dan lunak serta bahan pembelajaran). Materi pelajaran yang dikembangkan melalui media belajar buku pegangan, teknologi berbasis audio, visual atau audiovisual, teknologi berbasis komputer dan teknologi terpadu.
·         Kawasan pemanfaatan; Empat kategori dalam kawasan pemanfaatan ini adalah: pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan. Hal konkret yang dapat dilkukan untuk tetap melibatkan aspek interaksi sosial di dalam pemanfaatan e-learning dengan menerapkan:
a)      Dialog elektronik (chatting); dialog elektronik adalah percakapan berbasis teks yang dapat dilakukan secara online dalam waktu bersamaan (synchronous) antara dua atau lebih pengguna internet. Contoh aplikasi dalam konteks pendidikan tinggi, dialog elektronik dapat digunakan untuk proses komunikasi antara dosen dengan beberapa orang mahasiswanya dalam mendiskusikan suatu topik perkuliahan tertentu.
b)      Surat elektronik (e-mail); bentuk komunikasi tidak bersamaan (asynchronous) yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara mahasiswa dengan dosen atau mahasiswa dengan mahasiswa lain. Berbeda dengan chatting, dengan cara ini umpan balik yang diperoleh mungkin tertunda.
c)      Konferensi kelompok melalui surat elektronik; Mailing list merupakan perluasan dari e-mail dimana seseorang dapat mengirim pesan kepada sekelompok orang tertentu yang telah terdaftar untuk bergabung dalam kelompok diskusi.
d)     Konferensi jarak jauh (teleconference); konferensi jarak jauh dapat berupa konferensi audio maupun konferensi video. Kedua konferensi ini dapat dilakukan dengan cara "point to point" atau "multi point". Cara pertama dilakukan dalam dua tempat. Sedangkan cara kedua dilakukan dalam lebih dari dua tempat. Sebagai contoh, seorang guru dari sekolah tertentu dapat mendiskusikan suatu topik tertentu kepada siswa di beberapa sekolah lain dalam waktu bersamaan.
·         Kawasan Pengelolaan; Secara singkat ada empat kategori dalam kawasan pengelolaan yaitu: pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi.
·         Kawasan Penilaian; Berfungsi untuk mengukur sejauhmana tujuan dalam hal ini apakah e-learning yang dilakukan tetap melibatkan kan aspek interaksi sosial dalam lingkungan pembelajaran telah tercapai atau tidak dan tindakan apa yang harus dilakukan apabila tujuan tersebut belum tercapai.
Hal ini juga secara jelas dapat dilihat penjelasannya pada pembahasan jawaban nomor 2 yang mengarah pada aspek interaktivitas yang harus dilibatkan dalam e-learning.


DAFTAR PUSTAKA
Afinah. (2012). “Penerapan E-learning di Indonesia”. [online]. Tersedia:             http://afina167.wordpress.com/2012/08/30/penerapan-e-learning-di-indonesia/html.            [ 4 Desember 2013].
Effendi. (2009). “Hambatan dan Keterbatasan E-learning”. [online]. Tersedia: http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/11/hambatan-dan-keterbatasan-e-learning.html. [3 Desember 2013].
Hasbullah. (2008). “Perancangan dan Implementasi Model Pembelajaran E-Learning untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di JPTE FPTK UPI”. [online]. Tersedia:http://directory.umm.ac.id/tik/Hasbullah_Perancangan%20dan%20Implementasi%20Model%20Pembelajaran.pdf. [3 Desember 2013].
Lestari, Umi. (2011). “Makalah Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap Aktivitas Pendidikan”.  [online]. Tersedia:  http://umilestari67.wordpress.com/2011/04/03/makalah-dampak-teknologi-informasi-dan-komunikasi-tik-terhadap-aktivitas-pendidikan/html. [3 Desember 2013].
Mustaji. (2011). “Pemanfaatan Multi Media untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan”. Disajikan dalam seminar AKAL Interaktif di TB. Gramedia EXSPO Surabaya. [online]. Tersedia: http://pasca.tp.ac.id/site/pemanfaatan-multi-media-untuk-meningkatkan-kualitas-pendidikanhtml. [4 Desember 2013].
Permana Wijaya, Yoga (2009). “Efektifitas E-learning Bagi Mutu Pendidikan Sekolah Di Indonesia”. [online]. Tersedia: http://yogapw.wordpress.com/2009/05/14/efektifitas-e-learning-bagi-mutu-pendidikan-sekolah-indonesia/. [3 Desember 2013].
Rasyid, Mulyati. (2009). “Pemanfaatan E-Learning dalam Pembelajaran”. [online]. http://mulyatirasyid.wordpress.com/matakuliah-tik/final-test/html. [3 Desember 2013].
Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta
Surjono, Herman Dwi. (2009). “Pengantar e-Learning dan Penyiapan Materi Pembelajaran”. [online]. Tersedia: http://blog.uny.ac.id/hermansurjono/files/2009/02/pengantar-elearning-dan-penyiapan-materi.pdf.html. [3 Desember 2013].
Wasis D, Dwiyogo. (2011). “Pembelajaran Berbasis Blanded Learning”. [online]. http://id.wikibooks.org/wiki/Pembelajaran_Berbasis_Blended_Learninghtml. [3 Deesember].